BREAKING NEWS

Growth Mindset dalam Al-Qur’an: Mengubah Diri di Tengah Tantangan Zaman

Oleh:
Wahyu Septrianto, S.Ag., M.Ag.
(Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, UNIDA Gontor)

Di tengah kemajuan teknologi dan persaingan kehidupan yang semakin kompleks, manusia dituntut untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengembangkan kemampuannya. Namun, tidak sedikit orang merasa gagal sebelum mencoba, menyerah ketika menghadapi kesulitan, atau menganggap kemampuan dirinya tidak dapat berkembang. Persoalan ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi belum tentu diikuti oleh kemajuan pola pikir manusia.

Dalam Psikologi Modern, Carol S. Dweck memperkenalkan konsep growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan manusia dapat berkembang melalui usaha, pembelajaran, dan ketekunan. Seseorang dengan pola pikir ini tidak memandang kegagalan sebagai akhir perjalanan, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Menariknya, nilai-nilai yang sejalan dengan konsep tersebut telah lama menjadi bagian dari ajaran Islam. Al-Qur’an memberikan perhatian besar terhadap perubahan diri, kesungguhan berusaha, kesabaran, dan ketergantungan manusia kepada Allah SWT.

Perubahan Dimulai dari Diri Sendiri

Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra’d [13]: 11:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.”

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa perubahan sosial berkaitan erat dengan perubahan pola pikir, sikap, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.

Pesan tersebut relevan dengan kehidupan modern. Kemajuan seseorang tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas dan teknologi, tetapi membutuhkan kesadaran untuk belajar, memperbaiki kesalahan, serta mengembangkan potensi yang dimiliki.

Kesulitan Bukan Akhir Perjalanan

Dalam QS. Al-Insyirah [94]: 5–6, Allah SWT berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.”

Ayat ini memberikan harapan sekaligus mengajarkan keteguhan menghadapi tantangan. Kesulitan tidak selalu menandakan ketidakmampuan, tetapi dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran dan pendewasaan.

Dalam perspektif Islam, sikap tersebut berkaitan dengan tiga prinsip utama, yaitu ikhtiar, sabar, dan tawakal. Ikhtiar mendorong manusia untuk berusaha, sabar menjaga keteguhan ketika menghadapi hambatan, sedangkan tawakal mengajarkan penyerahan hasil kepada Allah setelah melakukan usaha.

Ketiganya membentuk keseimbangan antara kerja keras dan kesadaran spiritual. Manusia tidak dibenarkan menyerah tanpa berusaha, tetapi juga tidak semestinya menganggap keberhasilan semata-mata sebagai hasil kemampuannya sendiri.

Mengembangkan Potensi secara Utuh

Pada era Society 5.0, pengembangan manusia tidak cukup diukur dari kecerdasan dan penguasaan teknologi. Manusia juga membutuhkan kematangan spiritual dan akhlak.

Al-Qur’an mengarahkan manusia untuk mengembangkan potensi jasmani, akal, dan rohani secara seimbang. Jasmani mendukung aktivitas produktif, akal menjadi sarana memperoleh pengetahuan, sedangkan rohani membimbing manusia menggunakan kemampuannya secara bertanggung jawab.

Karena itu, growth mindset dalam perspektif Al-Qur’an bukan sekadar keyakinan bahwa manusia mampu berkembang. Ia juga berkaitan dengan kesadaran bahwa setiap potensi merupakan amanah yang harus dikembangkan untuk menghadirkan kebaikan.

Pada akhirnya, tantangan terbesar manusia bukan hanya mengikuti kecepatan perubahan zaman, melainkan membangun kemampuan untuk terus memperbaiki diri tanpa kehilangan arah kehidupan.

“Dalam Islam, bertumbuh bukan sekadar menjadi lebih mampu, tetapi juga menjadi lebih berilmu, berakhlak, dan dekat kepada Allah SWT.”***

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar