BREAKING NEWS

Kepala Desa Karangpatihan Diwisuda Magister UNESA: Ilmu Politik Membaca Peradaban, Ilmu Pendidikan Membangun Peradaban

Eko Mulyadi, SiP, M.Pd 
Prosesi Wisuda Magister Unesa 

SURABAYA, SINYALPONOROGO 
– Di antara ribuan toga yang berbaris rapi dalam Wisuda ke-117 Universitas Negeri Surabaya (UNESA), ada satu wajah yang mencuri perhatian. Wajah itu milik Eko Mulyadi, S.IP., M.Pd., Kepala Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo — sosok yang dikenal karena kiprahnya dalam mengubah wajah desa yang dulu identik dengan kemiskinan menjadi desa pemberdayaan.

Raut bahagia tampak jelas di wajahnya. Senyum khasnya merekah saat namanya dipanggil untuk naik ke panggung wisuda yang digelar secara khidmat di Gedung Graha Unesa, Surabaya. Di hadapan jajaran pimpinan universitas, dekan fakultas, dosen, dan ribuan wisudawan lain dari berbagai penjuru Indonesia, Eko resmi menyandang gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) dari Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA.

Eko Mulyadi bersama ribuan wisudawan 

“Dari ruang kelas, lapangan pengabdian, hingga ruang ujian kehidupan—semua mengajarkan bahwa belajar tidak mengenal batas,” tutur Eko usai prosesi wisuda. “Ilmu bukan sekadar memahami, tetapi juga tentang menjadi. Menjadi lebih sabar, lebih rendah hati, lebih kuat, dan lebih berguna.”

Belajar Tanpa Batas, Mengabdi Tanpa Henti

Eko bukan sosok asing dalam dunia pemberdayaan sosial. Di bawah kepemimpinannya, Desa Karangpatihan dikenal luas sebagai “Desa Istimewa” karena mampu menumbuhkan kemandirian bagi penyandang disabilitas dan masyarakat miskin ekstrem. Banyak pihak menyebutnya sebagai contoh nyata implementasi ilmu sosial politik di lapangan — berpadu dengan pendekatan pendidikan yang humanis.

“Ilmu politik membimbingku membaca peradaban, sementara ilmu pendidikan membimbingku membangun peradaban,” ujarnya mantap. Kalimat itu bukan sekadar refleksi akademik, melainkan cerminan dari perjalanan panjang seorang kepala desa yang tak berhenti belajar.


Eko memulai perjalanannya dari fakultas sosial politik, lalu melanjutkan ke program pascasarjana pendidikan — sebuah kombinasi ilmu yang jarang dipilih, namun justru memperkaya perspektifnya dalam membangun masyarakat dari akar rumput.

Dari Desa ke Kampus, dari Kampus Kembali ke Desa

Selama menempuh studi magister, Eko kerap membagi waktunya antara Surabaya dan Ponorogo. Di pagi hari ia bisa menjadi mahasiswa yang duduk tenang di ruang kuliah, sementara di akhir pekan ia kembali menjadi pemimpin desa yang mendampingi warganya membuat kerajinan atau mengelola program ekonomi inklusif.

“Wisuda ini bukan akhir,” kata Eko lirih, “melainkan pintu menuju tanggung jawab yang lebih luas — untuk menerapkan ilmu, menebar manfaat, dan terus belajar tanpa batas.”

Teladan bagi Pemimpin Lokal

Kisah Eko Mulyadi menjadi inspirasi bagi banyak kepala desa di Indonesia. Bahwa pendidikan bukan milik mereka yang muda saja, melainkan juga mereka yang berani terus bertumbuh di tengah tanggung jawab besar.

Rektor UNESA dalam sambutannya menegaskan bahwa para lulusan diharapkan mampu membawa nilai integritas, profesionalisme, dan kepemimpinan dalam setiap langkah karier mereka. Nilai-nilai itulah yang tampaknya telah lama dijalankan Eko bahkan sebelum toga itu melekat di pundaknya.

Dengan dua disiplin ilmu — sosial politik dan pendidikan — Eko menapaki jalan pengabdian yang tak mudah, tapi penuh makna. Ia menjembatani teori dan realitas, kata dan kerja, kampus dan desa.
Karangpatihan, desa kecil di Ponorogo, kini tak hanya dikenal karena program sosialnya, tapi juga karena pemimpinnya yang menjadi simbol “belajar tanpa henti, mengabdi tanpa batas.”

Penulis : Nanang

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar