Reyog Tiap Hari, Gagasan Atika Banowati Dongkrak Identitas Ponorogo sebagai Kota Reyog

Hj. Atika Banowati, SH dalam kegiatan sosialisasi tradisi reyog di Balai desa Tugurejo Slahung Ponorogo
PONOROGO, SINYALPONOROGO — Upaya menjaga dan melestarikan tradisi Reyog Ponorogo kembali digaungkan dalam acara solo semiran bertema pariwisata yang digelar di Balai Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung, Kamis (27/11/2025). Hj. Atika Banowati, SH, anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi Golkar, hadir sebagai tokoh utama yang membawa gagasan besar: Reyog tampil setiap hari di Ponorogo sebagai penanda kota kelahiran Reyog yang kini mendunia.
Atika menilai, setelah Reyog resmi diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda, Ponorogo harus mengambil momentum.
“Reyog ini kebanggaan bangsa Indonesia. Sudah semestinya para pelaku seninya bisa hidup sejahtera,” tegasnya.
Ia menggagas skema kolaborasi antara provinsi, kabupaten, dan desa untuk memastikan pendanaan yang berkelanjutan bagi program pertunjukan Reyog harian.
Menurutnya, 307 desa dan kelurahan di Ponorogo, ditambah sanggar serta komunitas seni, membuat pertunjukan Reyog sepanjang tahun bukan hal mustahil. Tantangannya tinggal pada pengaturan teknis dan jadwal tampil.
Kepala Desa Tugurejo: “Reyog Jati Diri Ponorogo”
Kepala Desa Tugurejo, Siswanto, menyampaikan kebanggaan atas kehadiran Atika sekaligus apresiasi atas sikap konsisten tokoh perempuan itu dalam memperjuangkan pelestarian Reyog.
“Reyog adalah jati diri Ponorogo, identitas masyarakat Ponorogo. Pengakuan UNESCO itu prestasi luar biasa,” ujarnya.
Namun Siswanto juga menyampaikan kegelisahan soal dana desa yang belum cair, sementara beberapa proyek fisik sudah berjalan. “Nanti uangnya bagaimana? Siapa yang akan menanggung?” keluhnya di hadapan undangan, termasuk Eko Priyo Utomo (Ketua DPD Partai Golkar), Camat Slahung Nur Huda Rifai, dan para peserta solo semiran.
Narasumber Soroti Data Pelaku Seni: “Jangan Sampai Tikus Mati di Lumbung Padi”
Rofiki, salah satu narasumber, menyoroti isu yang jarang disentuh: ketiadaan data tunggal tentang para pelaku seni Reyog. Mulai jumlah pembarong, jatil, bujangganong, hingga tren kenaikan atau penurunan jumlah penari.
“Momentum pengakuan UNESCO harus dibarengi data yang kuat. Grafik perkembangan pelaku seni ini seperti apa? Ini jadi obrolan menarik karena Ponorogo belum punya catatan terintegrasi,” jelasnya.
Ia juga menegaskan pentingnya apresiasi nyata pemerintah terhadap para seniman Reyog.
“Jangan sampai tikus mati di lumbung padi. Pelaku seni yang menjaga marwah Reyog harus mendapat jaminan kesejahteraan.”
Diskusi berjalan hangat, bahkan hidup, karena para narasumber memberi ruang luas bagi peserta untuk bertanya dan berdialog.
Mendorong Ponorogo sebagai Kota Reyog Dunia
Gagasan Reyog tampil setiap hari bukan sekadar rencana program. Di mata Atika Banowati, itu adalah strategi membangun ekosistem ekonomi budaya, menjadikan Ponorogo bukan hanya tempat lahir Reyog, tetapi juga pusat pertunjukan Reyog dunia.
Acara solo semiran ini menjadi ruang penting untuk membangun kesadaran kolektif bahwa pelestarian Reyog tidak cukup dengan kebanggaan saja. Diperlukan data, dukungan anggaran, dan strategi bersama agar tradisi yang telah mendunia ini benar-benar menyejahterakan masyarakatnya.
Penulis : Nanang