BREAKING NEWS

BRB Bukan Sekadar Dzikir, Senyum Pedagang Kecil Jadi Bukti Nyata Perputaran Ekonomi

Alim Norfaizin, SIP, M.Si
Koordinator Humas BRB 2025 PSHT cabang Ponorogo 

PONOROGO, SINYALPONOROGO
– Pagi itu, suasana pinggir jalan di Ponorogo terasa berbeda. Di atas tikar sederhana lesehan, seorang pedagang nasi tersenyum lebar melayani pembeli. Di balik kesederhanaannya, tersimpan cerita tentang berkah besar dari sebuah kegiatan religi: Bumi Reog Berdzikir (BRB).

“Sehari bisa sampai lima juta rupiah, Mas,” ujar pedagang kecil itu polos, saat ditemui di sela-sela aktivitas sarapan warga. 

Omzet yang bagi sebagian orang mungkin biasa saja, namun bagi pelaku usaha kecil, angka itu adalah harapan—bahkan kebahagiaan.

Cerita sederhana tersebut menjadi potret nyata betapa kehadiran BRB bukan hanya menghidupkan nilai spiritual, tetapi juga menggerakkan denyut ekonomi rakyat. Ribuan, bahkan diperkirakan hingga 120 ribu massa, tumplek blek di Ponorogo. Orang datang, orang bergerak, dan tentu saja: orang makan dan minum.

“Dari cerita-cerita seperti itulah kami merasa bahagia,” kata Alim Norfaizin, Koordinator Humas BRB. 

Ia mengaku bersyukur karena harapan agar BRB terus berlanjut justru datang dari para pelaku ekonomi kecil yang telah merasakan langsung dampaknya.

Rame, suasana angkringan dipenuhi warga PSHT dari berbagai penjuru kota dalam acara BRB 2025

Menurut Alim, efek BRB tidak berhenti di pedagang kaki lima. Sektor perhotelan, transportasi, jasa parkir, UMKM, hingga usaha rumahan ikut merasakan perputaran ekonomi selama kegiatan berlangsung. Kota bergerak, warga bekerja, dan rezeki mengalir dari berbagai arah.

“Ini bukan hanya soal acara besar, tapi bagaimana kebermanfaatannya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

BRB memang dirancang sebagai kegiatan religi dan persaudaraan. Namun dalam praktiknya, kegiatan ini menjelma menjadi ruang perjumpaan sosial dan ekonomi. Dzikir yang dilantunkan ribuan jamaah seolah berjalan beriringan dengan doa-doa pedagang kecil agar dagangan mereka laris dan membawa berkah.

Tak sedikit warga yang berharap kegiatan ini bisa kembali digelar pada tahun-tahun mendatang. Bahkan, harapan itu disampaikan dengan cara paling sederhana: doa tulus dari pedagang kecil agar para penggerak BRB selalu sehat dan panjang umur, supaya kegiatan serupa bisa terus hadir.

“Bantu doa njih, Bu. Sehat panjang umur, supaya bisa terlaksana lagi tahun depan,” ujar salah satu warga, lirih namun penuh makna.

Di tengah hiruk pikuk wacana ekonomi besar, BRB memberi pelajaran penting: keberkahan sering kali lahir dari kegiatan yang menyentuh akar rumput. Ketika spiritualitas dan kepedulian sosial berjalan beriringan, senyum pedagang kecil pun menjadi indikator paling jujur tentang keberhasilan sebuah kegiatan.

Harapan kini tertuju pada BRB 2026—bukan sekadar lebih besar, tetapi lebih membawa manfaat. Karena bagi warga Ponorogo, BRB bukan hanya acara tahunan, melainkan ruang harapan, doa, dan penghidupan.

Penulis : Nanang

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar