Ziarah Leluhur, PSHT Ponorogo Teguhkan Spirit Budi Pekerti di Rangkaian BRB 2025
![]() |
| Kang mas Moh Komarudin, ketua PSHT cabang Ponorogo ketika ziarah makam di Tegalsari |
PONOROGO, SINYALPONOROGO — Warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Ponorogo menggelar ziarah ke makam Kyai Hasan Besari Tegalsari dan Batoro Katong, Selasa (23/12/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Bumi Reog Berdzikir (BRB) 2025 yang bakal digelar pada Ahad, 28 Desember 2025, yang rencananya juga akan dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara.
Rombongan dipimpin langsung Ketua Cabang PSHT Ponorogo, Kangmas Moh. Komarudin, S.Ag, M.Si. Selain berziarah ke makam tokoh-tokoh pendiri peradaban Ponorogo tersebut, rombongan juga melanjutkan ziarah ke makam para ketua PSHT di wilayah Sampung, Ponorogo.
Komarudin menegaskan, ziarah ini bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan bentuk sikap tawaduk seorang santri sekaligus pendekar PSHT dalam menghormati jasa para leluhur.
“Ziarah makam ini merupakan wujud sikap tawaduk seorang santri sekaligus pendekar PSHT,” ujarnya.
Menurutnya, mengenang jasa para pendahulu adalah bagian dari proses pembentukan karakter warga PSHT. Nilai-nilai spiritual dan moral yang diwariskan para leluhur menjadi fondasi penting dalam mendidik manusia berbudi pekerti, mampu membedakan benar dan salah, serta menjaga sikap dalam kehidupan bermasyarakat.
“Seorang warga PSHT dididik tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara batin. Dari sini lahir manusia yang tahu unggah-ungguh, tahu budi pekerti, dan paham tanggung jawab sosial,” lanjut Komarudin.
Ia menambahkan, ajaran spiritual para leluhur inilah yang hingga kini menjadi landasan PSHT untuk terus merawat persaudaraan, merajut harmoni sosial, dan menjaga keteduhan di tengah masyarakat.
![]() |
| Ziarah makam Ketua PSHT cabang Ponorogo di Sampung Ponorogo |
Ziarah makam dalam rangka BRB 2025 ini sekaligus menegaskan bahwa kekuatan PSHT bukan semata pada jurus dan tenaga, melainkan pada nilai, etika, dan kesadaran sejarah—bahwa Ponorogo dibangun di atas laku spiritual dan keteladanan para pendahulu.
Penulis : Nanang

