BBWS Solo Turunkan Mobil Penyedot, Selamatkan Padi Warga Pengkol dari Ancaman Gagal Panen
0 menit baca
![]() |
| Mobile Flood Pump (MFP-900) berkapasitas 250 liter per detik lakukan penyedotan di area persawahan Pengkol kauman Ponorogo |
PONOROGO, SINYALPONOROGO — Ancaman gagal panen menghantui petani Desa Pengkol, Kecamatan Kauman, Ponorogo, setelah air banjir menggenangi area persawahan akibat luapan Sungai Pelem. Merespons kondisi tersebut, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo bergerak cepat dengan menurunkan satu unit Mobile Flood Pump (MFP-900) berkapasitas 250 liter per detik.
Koordinator lapangan BBWS Solo wilayah Ponorogo, Mujiono, mengatakan pompa penyedot banjir itu didatangkan langsung dari Madiun dan mulai dioperasikan sejak Sabtu pagi (3/1/2026). Sebanyak 11 personel diterjunkan untuk mempercepat surutnya genangan air di persawahan.
“Sejak pagi tadi kami lakukan penyedotan air banjir di area persawahan. Tanaman padi di sini rata-rata berusia sekitar 30 hari. Kalau terlalu lama tergenang, risikonya bisa rusak bahkan mati,” ujar Mujiono di lokasi.
Menurutnya, genangan air terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Ponorogo dalam beberapa hari terakhir, menyebabkan Sungai Pelem meluap. Meski kondisi air sungai mulai surut, debit aliran masih tergolong deras.
Pantauan di lapangan menunjukkan, air sungai masih berada pada level tinggi. Petugas berharap tidak turun hujan susulan yang berpotensi menambah volume genangan. BBWS Solo juga terus memantau situasi sembari memaksimalkan proses penyedotan.
Ke depan, Mujiono menyebut, kawasan tersebut direncanakan akan dinormalisasi. Pendangkalan sungai yang terjadi selama ini dinilai menjadi salah satu penyebab utama air mudah meluap saat hujan deras.
“Normalisasi penting agar sungai bisa menampung debit air lebih besar. Sekarang banyak sungai yang dangkal, akhirnya air meluber ke sawah bahkan pemukiman,” katanya.
![]() |
| Kondisi terkini area persawahan Pengkol kauman Ponorogo |
Langkah cepat BBWS Solo ini menjadi harapan bagi petani Pengkol agar jerih payah mereka tidak hilang diterjang banjir. Di tengah cuaca ekstrem, kehadiran negara di sawah-sawah warga menjadi penyangga terakhir agar pangan dan penghidupan tetap bertahan.
Penulis : Nanang


