Di Mata Keluarga, Saputra Aji Dikenal Cerdas: Potret Terduga Pelaku Kasus Nur Aini dari Lingkar Terdekat

Gambar hanya ilustrasi saja
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Di balik kasus pembunuhan Nur Aini (55), warga Desa Golan, Kecamatan Sukorejo, yang mengguncang Ponorogo, keluarga justru mengenal Saputra Aji (30), terduga pelaku, sebagai sosok yang cerdas dan memiliki kemampuan teknis di atas rata-rata.
Pengakuan itu datang dari Darmin, ayah angkat Saputra Aji, yang merawatnya sejak usia dua tahun, setelah menikah dengan Nur Aini pada 2001. Dari pernikahan tersebut, Darmin dan Nur Aini dikaruniai tiga anak: Aditya (24), Muhammad Gilang (22), dan Rehan Dinata (16).
“Saputra itu anaknya tergolong cerdas. Bisa memperbaiki peralatan elektronik,” ujar Darmin.
Menurutnya, Saputra terbiasa mengutak-atik gawai, mulai dari telepon genggam hingga komputer, tanpa pendidikan formal khusus.
Hal senada disampaikan Muhammad Gilang (22), adik kandung terduga pelaku. Ia menyebut kakaknya gemar bermain gim Mobile Legends dan kerap berdiskusi dengannya soal permainan tersebut. Karena itu, Gilang mengetahui bahwa saat kasus pembunuhan ibunya terbongkar, ponsel kakaknya masih dalam kondisi aktif dan terhubung.
“Setahu saya, HP kakak ada dua. Satu ada di dalam tas yang ditemukan polisi di Gunungkidul,” kata Gilang.
Gilang juga mengungkap cerita sebelum peristiwa tragis itu terjadi. Sekitar sembilan hari sebelumnya, sempat muncul ketegangan di rumah terkait hilangnya sebuah power bank milik Nur Aini. Awalnya, Gilang yang dituduh mengambilnya. Namun belakangan diketahui, power bank tersebut ditemukan di jok sepeda motor Saputra Aji.
“Waktu saya tanya kenapa ambil power bank ibu, kakak cuma bilang, ‘lha dis nggak nanya soal itu’,” ungkap Gilang.
Peristiwa itu, menurutnya, sempat memicu suasana tegang di keluarga hingga membuatnya takut datang ke rumah sang ibu.
Dalam perkembangan penyelidikan, polisi menemukan tas milik Saputra Aji di wilayah Gunungkidul. Di dalamnya terdapat sejumlah barang, antara lain kunci motor, BPKB, uang pecahan, kapak, pisau, perhiasan, ponsel, gembok, serta beberapa barang kecil lainnya.
Saat dimintai keterangan oleh penyidik, Gilang mengaku hanya mengenali perhiasan dan ponsel yang ada di dalam tas tersebut.
“Selebihnya barang-barang itu saya tidak hafal dan tidak tahu,” ucapnya di hadapan polisi.
Kasus ini bukan hanya menyisakan duka mendalam, tetapi juga membuka ironi: sosok yang dikenal cerdas dan dekat dengan teknologi, justru kini berada di pusaran perkara pidana paling kelam. Sebuah pengingat bahwa kecerdasan tanpa pengelolaan emosi dan lingkungan yang sehat, bisa berujung pada tragedi yang tak terbayangkan.
Penulis : Nanang