Keluarga Bantah Saputra Aji Bunuh Diri, Jejak Digital Masih Aktif di Hari Ibu Tewas
![]() |
| Kondisi terkini di rumah duka di desa Golan Sukorejo Ponorogo |
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Keterangan polisi yang menyebut Saputra Aji (30), terduga pelaku pembunuhan ibu kandungnya, Nur Aini (55), diduga berada di Kabupaten Gunung Kidul dan terjun ke laut, dibantah keras oleh pihak keluarga. Ayah angkat dan adik kandung Saputra Aji menyatakan keyakinan bahwa ia masih hidup.
Darmin (55), ayah angkat Saputra Aji, mengaku mengenal betul karakter anak yang dibesarkannya sejak usia dua tahun. Ia menikah dengan Nur Aini pada 2001, saat Saputra masih balita. Sejak itu, Darmin merawatnya seperti anak kandung sendiri.
“Saya sama sekali tidak percaya kalau Saputra Aji bunuh diri dengan terjun ke laut,” ujar Darmin kepada Sinyal Ponorogo, Kamis (29/1/2026).
Menurut Darmin, Saputra Aji dikenal sebagai pribadi pendiam, tertutup, dan cenderung penakut. Sejak lulus SD, Saputra langsung mondok. Lingkungan pesantren membentuknya menjadi anak yang taat beribadah dan tekun. Setelah lulus setingkat SMP, ia merantau ke Bali, melanjutkan sekolah hingga sempat mengenyam bangku perguruan tinggi meski tidak sampai lulus.
“Anaknya itu alim, rajin ibadah. Saya tahu betul, tidak mudah baginya melakukan hal sekejam itu, apalagi kepada ibu kandungnya sendiri,” katanya.
Selain dikenal religius, Saputra juga disebut cerdas. Ia mampu memperbaiki perangkat elektronik seperti ponsel dan komputer secara otodidak. Namun kecerdasannya itu dibarengi sifat menyendiri.
Kesaksian senada disampaikan adik kandungnya, Muhammad Gilang (22). Gilang mengungkapkan, kakaknya hanya mau berkomunikasi dengan orang-orang tertentu yang dianggap “satu frekuensi”. Selebihnya, Saputra Aji memilih diam.
“Dia pendiam. Kalau ngobrol, ya hanya ke orang-orang tertentu. Kami sering komunikasi kalau pas di rumah disuruh betulkan apa gitu oleh Ibu,” Kenang Gilang.
Fakta yang paling mengusik keluarga adalah jejak digital Saputra yang masih aktif. Gilang menyebut, pada Senin, 27 Januari 2026—hari ketika Nur Aini ditemukan meninggal dunia—akun Mobile Legends milik Saputra masih tercatat online.
“Karena saya berteman di game dengan kakak saya. Itu yang bikin kami yakin dia masih hidup,” ucapnya.
Kesaksian warga sekitar memperkuat gambaran tertutupnya sosok Saputra. Seorang tetangga yang juga kerabat korban mengatakan, sejak pulang dari Bali dan tinggal di Desa Golan, Saputra hampir tak pernah bersosialisasi.
“Diundang genduren saja tidak datang. Keluar rumah seperlunya, habis itu masuk dan pintu dikunci,” katanya.
Bagi keluarga, dugaan bunuh diri itu terasa terlalu sederhana untuk menjelaskan rangkaian peristiwa yang terjadi. Mereka tidak menampik luka dan duka, tetapi juga menolak kesimpulan yang mereka anggap tidak selaras dengan karakter Saputra.
“Kami hanya berharap dia segera ditemukan. Tidak dendam,” kata Gilang lirih. “Saya cuma punya satu pertanyaan: mengapa sampai membunuh?”
Darmin dan Nur Aini dikaruniai tiga anak dari pernikahan mereka: Aditya (24), Muhammad Gilang (22), dan Rehan Dinata (16). Keduanya berpisah pada 2019, enam tahun lalu, setelah Nur Aini pulang dari Malaysia. Ketiga anak ikut Darmin dan tinggal di Desa Carat, Kauman, Ponorogo.
Di tengah duka dan tanda tanya, keluarga memilih satu sikap: percaya pada kemanusiaan, meski kenyataan belum memberi jawaban.
Penulis : Nanang
