BREAKING NEWS

Masjid Tegalsari, Jejak Peradaban Islam yang Tetap Hidup di Ponorogo

Makam Kyai Muhammad Besari di samping Masjid Tegalsari 

PONOROGO, SINYALPONOROGO
- Di tengah denyut modernitas Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, berdiri Masjid Tegalsari—sebuah bangunan ibadah yang bukan sekadar tempat salat, melainkan penanda kuat sejarah peradaban Islam di Jawa. Dari luar, masjid ini tampak seperti masjid kebanyakan. Namun begitu kaki melangkah masuk, jejak kekunoan dan nilai sejarahnya terasa kental.

Masjid Tegalsari menyatu dengan kawasan Pondok Pesantren Tegalsari seluas sekitar 4.500 meter persegi. Pola dasar bangunan, struktur tiang, hingga atap tumpang tiga yang khas Jawa menjadi saksi bisu perjalanan panjang dakwah Islam di Ponorogo. Atap tumpang tiga itu bukan sekadar arsitektur, melainkan simbol nilai utama kehidupan umat Islam: Iman, Islam, dan Ihsan.

Di ruang utama masjid berukuran 16,25 x 16,25 meter, berdiri 36 tiang kayu—22 berbentuk silindris dan 14 berbentuk segi empat—yang menopang bangunan berusia ratusan tahun. Mihrab dan mimbar kayu jati berukir motif daun, sulur, dan kaligrafi Arab memperlihatkan tingginya nilai seni dan spiritualitas masa lalu.

Salah satu artefak yang paling menarik perhatian adalah batu “bancik” di depan masjid. Konon, batu ini diambil dari peninggalan Kerajaan Majapahit. Secara filosofis, batu tersebut menandai peralihan besar: dari kejayaan Hindu-Buddha menuju penyebaran Islam yang dilakukan Kyai Ageng Muhammad Besari, tokoh sentral Tegalsari.

Sejarah Tegalsari sendiri berkelindan dengan peristiwa besar Nusantara. Saat Geger Pacinan mengguncang Keraton Mataram Kartasura, Raja Paku Buwono II sempat mengungsi dan singgah di Tegalsari. Dari desa inilah kekuatan disusun hingga pemberontakan berhasil dipadamkan. 

Sebagai balas jasa, Tegalsari dianugerahi status desa perdikan, dan pemimpinnya diberi gelar Kyai Ageng—sebuah pengakuan politik dan spiritual sekaligus.

Masjid Tegalsari telah beberapa kali dipugar, mulai dari tahun 1976–1977 oleh Pemkab Ponorogo yang diresmikan Presiden Soeharto, hingga pemugaran lanjutan oleh proyek pelestarian cagar budaya Jawa Timur. Namun ruh masjid ini tetap terjaga: sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan warisan nilai kebijaksanaan.

Masjid Tegalsari bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah pengingat bahwa dakwah, kekuasaan, budaya, dan keikhlasan pernah berpadu membentuk peradaban. Dan hingga hari ini, denyut sejarah itu masih hidup—mengalir dari kayu jati, batu bancik, hingga lantunan doa para santri. (Narasi diambil dari Prasati yang ada di masjid Tegalsari Ponorogo)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar