Dapat Becak Listrik Bantuan Presiden, Abang Becak Ponorogo Tetap Sepi Penumpang

Agung Abang becak mangkal di depan kecamatan Ponorogo setia menunggu penumpang
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Harapan baru sempat berpendar di wajah para abang becak saat 200 unit becak listrik bantuan Presiden Prabowo Subianto dibagikan kepada masyarakat Ponorogo. Armada ramah lingkungan itu digadang-gadang menjadi solusi atas usia yang kian menua dan tenaga yang tak lagi sekuat dulu.
Namun di jalanan Kota Reog, realitas tak selalu seindah seremoni penyerahan bantuan.
Agung (56), warga Bangunsari, menjadi salah satu penerima becak listrik tersebut. Sejak remaja, ia sudah mengayuh becak dan kini biasa mangkal di depan Kantor Kecamatan Ponorogo. Baginya, kehadiran becak listrik benar-benar mengubah cara bekerja.
“Sekarang tidak capek lagi. Kalau tanjakan juga nggak khawatir, sudah nyaman. Di rumah bisa ngecas, listriknya nggak besar. Ada pancalannya juga buat kondisi darurat, komplit,” ujarnya kepada Sinyal Ponorogo Jumat, 13/02/2026.
Secara teknis, becak listrik itu dinilai membantu. Tak hanya lebih ringan dikayuh, tapi juga memberi rasa aman saat melintasi jalan menanjak. Tarif pun tetap sama seperti becak konvensional, sehingga tak membebani penumpang.
Masalahnya bukan lagi pada tenaga.
Sepinya penumpang menjadi tantangan utama. Agung mengakui, kebiasaan masyarakat yang kini lebih memilih sepeda motor untuk aktivitas harian membuat becak—meski sudah bertenaga listrik—kian tersisih.
“Sekarang sudah banyak motor pribadi. Penumpang jarang,” katanya lirih.
Fenomena ini seperti potret kecil perubahan zaman di Ponorogo. Modernisasi transportasi bergerak cepat, sementara becak—ikon transportasi rakyat—harus berjuang mencari ruang di tengah dominasi kendaraan bermotor.
Becak listrik sejatinya membawa dua pesan: inovasi dan keberpihakan. Inovasi karena memadukan transportasi tradisional dengan teknologi ramah lingkungan. Keberpihakan karena menyasar wong cilik yang menggantungkan hidup dari kayuhan roda tiga.
Namun bantuan alat belum tentu otomatis menggerakkan pasar. Tanpa kebijakan pendukung—misalnya zona ramah becak, kawasan wisata berbasis transportasi tradisional, atau imbauan penggunaan becak untuk jarak dekat—armada baru itu berpotensi sekadar menjadi simbol.
Di sisi lain, kisah Agung menyiratkan daya tahan. Sejak remaja ia mengayuh becak, melewati perubahan generasi dan pola hidup warga kota. Kini, meski tenaga dibantu listrik, ia tetap mengayuh harapan yang sama: penumpang datang dan dapur tetap mengepul.
Becak listrik mungkin telah meringankan beban fisik. Tinggal bagaimana ekosistem kota ikut meringankan beban ekonomi para pengemudinya.
Penulis : Nanang