Dua Siswi SMAN 2 Ponorogo Tembus Panggung Dunia, Siap Harumkan Indonesia di Malaysia
![]() |
| Hanin Naurayani Alifa dan Khariza Fazari Shaliya siswi berprestasi dari SMADA Ponorogo siap harumkan nama Bangsa Indonesia |
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Kabar membanggakan datang dari SMAN 2 Ponorogo. Dua siswinya, Hanin Naurayani Alifa dan Khariza Fazari Shaliya, berhasil menembus seleksi nasional dan akan mewakili Indonesia dalam ajang penelitian tingkat internasional di Malaysia.
Keduanya sebelumnya berlaga dalam OPSI (Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia) yang digelar oleh Pusat Prestasi Nasional sejak Oktober 2025 di Universitas Surabaya, Surabaya. Dari proses seleksi ketat tingkat nasional, Hanin dan Khariza sukses meraih medali perunggu—sebuah capaian yang mengantarkan mereka masuk radar pembinaan lanjutan menuju kompetisi internasional.
Penguatan kapasitas itu akan dimulai melalui program prapembinaan dan pelatnas pada 2–6 Maret 2026 di Hotel Neo Tendean, Jakarta Selatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari persiapan delegasi Indonesia untuk ajang Young Inventors Challenge (YIC) 2026 yang digelar secara daring dari Malaysia oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Pusat Prestasi Nasional.
![]() |
| Mursid, S.Pd, M.Pd Kepala sekolah SMAN 2 Ponorogo |
Kepala SMAN 2 Ponorogo, Mursid, S.Pd., M.Pd., mengaku bangga sekaligus terharu atas capaian dua anak didiknya. Menurutnya, keberhasilan ini bukan hasil instan, melainkan buah dari proses panjang pembinaan dan seleksi tingkat sekolah yang dilakukan secara konsisten.
“Alhamdulillah, dua siswi kami bisa masuk tingkat nasional dan meraih medali perunggu. Ini bukti bahwa budaya riset di sekolah terus tumbuh,” ujarnya kepada sinyal Ponorogo Selasa, 24 Februari 2026.
Ia berharap, selama pelatnas di Jakarta, Hanin dan Khariza tidak hanya dimatangkan dari sisi substansi penelitian, tetapi juga mental bertanding. Targetnya jelas: tampil maksimal di level internasional dan membawa pulang prestasi yang membanggakan—bukan hanya bagi sekolah, tetapi juga bagi Jawa Timur dan Indonesia.
Langkah dua siswi ini menjadi penanda bahwa pelajar daerah mampu bersaing di panggung global. Dari ruang-ruang kelas di Ponorogo, gagasan dan inovasi lahir, diuji, lalu melangkah menembus batas negara.
Di tengah tantangan pendidikan yang kian kompetitif, capaian Hanin dan Khariza menjadi inspirasi: bahwa riset bukan sekadar lomba, tetapi jalan bagi generasi muda untuk menyuarakan solusi dan menunjukkan kapasitas bangsa di mata dunia.
Penulis : Nanang

