Korwil SPPI MBG Ponorogo Bungkam, SPPG Rp2,6 Miliar Berdiri Dekat TPS

Papan informasi pembangunan SPPG menelan anggaran 2,6 miliar lokasi jalan anggrek Nologaten Ponorogo mendapat sorotan warga karena dekat TPS
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jalan Anggrek, Kelurahan Nologaten, Ponorogo menuai sorotan. Proyek senilai Rp2,6 miliar itu berdiri berdekatan dengan Tempat Pembuangan Sampah (TPS), memantik pertanyaan publik soal konsistensi standar kesehatan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sorotan ini menguat setelah Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik S. Deyang, sebelumnya menegaskan bahwa pembangunan SPPG tidak boleh berada dekat kandang ternak maupun sumber yang berpotensi menyebarkan penyakit, termasuk TPS. Standar itu ditegaskan demi menjamin higienitas dapur penyedia makanan bergizi bagi penerima manfaat.
Namun fakta di lapangan menunjukkan SPPG di Nologaten berdiri tak jauh dari lokasi pembuangan sampah. Kondisi tersebut dinilai kontradiktif dengan pernyataan resmi BGN.
Perbandingan pun mencuat. Dalam kasus SPPG Banyudono 1, lokasi yang berdekatan dengan kandang ternak diminta untuk direlokasi dan diberi tenggat waktu tiga bulan. Ketegasan itu kini dipertanyakan, mengingat proyek di Nologaten justru tetap berjalan.
Upaya konfirmasi kepada Shiella selaku Koordinator Wilayah (Korwil) SPPI MBG Kabupaten Ponorogo belum membuahkan hasil. Hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan belum memberikan respons atas permintaan klarifikasi yang diajukan.
Publik berharap ada penjelasan terbuka dari pihak terkait. Sebab, program MBG membawa misi besar: memastikan asupan gizi yang aman dan sehat bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Misi itu akan kehilangan makna bila aspek sanitasi dan standar lokasi dapur tidak dijalankan secara konsisten.
Anggaran miliaran rupiah yang digelontorkan tentu bukan angka kecil. Karena itu, transparansi dan kepatuhan terhadap aturan menjadi keniscayaan. Jika aturan menyebut tidak boleh dekat sumber penyakit, maka penerapannya semestinya tanpa pengecualian.
Penulis : Nanang