BREAKING NEWS

Ramadan dan Solidaritas Sosial, Atika Banowati Ajak Warga Perkuat Iman dan Kepedulian

Kegiatan sosialisasi dengan tema kesetiakawansn sosial bersama Hj. Atika Banowati, SH di Maesa Hotel Ponorogo 

PONOROGO, SINYALPONOROGO
– Bulan suci Ramadan tak sekadar menjadi momentum ibadah personal, tetapi juga panggilan untuk meneguhkan solidaritas sosial. Pesan itu mengemuka dalam sosialisasi bertema “Membangun dan Menumbuhkan Jiwa Kesetiakawanan Sosial Guna Mewujudkan Lingkungan yang Lebih Agamis dan Harmonis” yang digelar di Maesa Hotel Ponorogo, Kamis (26/2/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Hj. Atika Banowati, anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur fraksi Golkar dari Dapil IX (Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Magetan, dan Ngawi), bersama dua narasumber: Ustad Gufron dan Dr. Wildan Nafi'i.


Dalam sambutannya, Atika mengajak peserta meningkatkan iman dan takwa, terlebih menjelang Ramadan. Ia menekankan pentingnya menghadirkan nilai-nilai kebaikan agar kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan membekas dalam laku keseharian.

“Ramadan harus menjadi momentum memperbaiki diri sekaligus memperkuat kepedulian sosial. Dari sini kita ingin lahir lingkungan yang agamis dan harmonis,” ujarnya.


Ustad Gufron dalam paparannya mengingatkan pentingnya menyambut Ramadan dengan kesungguhan, seolah itu adalah Ramadan terakhir dalam hidup. Kesadaran akan kefanaan, katanya, membuat manusia lebih berhati-hati menata amal.

“Hidup manusia dilihat dari akhirnya. Usahakan husnul khatimah. Di bulan Ramadan, perbanyak membaca Al-Qur’an. Tidak perlu banyak, yang penting istiqomah. Selembar sehari pun cukup, atau one day one juz bagi yang mampu,” tuturnya.

Sementara itu, Dr. Wildan Nafi’i mengupas urgensi kesetiakawanan sosial dalam perspektif Islam. Ia merujuk QS At-Taubah ayat 71 yang menegaskan ukhuwah, tolong-menolong, dan ketaatan sebagai fondasi umat beriman. Solidaritas, katanya, bukan sekadar etika sosial, melainkan perintah ilahi.

Ia juga mengingatkan pesan QS Al-Ma’idah ayat 2 tentang kewajiban tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. 

“Kesetiakawanan mencegah konflik, menurunkan ketidakadilan, dan memperkuat kohesi sosial. Zakat, sedekah, dan wakaf adalah praktik ibadah yang berdampak langsung bagi masyarakat,” paparnya.

Wildan mencontohkan bagaimana Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat Madinah dengan menghapus sekat suku dan status sosial, menempatkan persaudaraan sebagai dasar kehidupan bersama. Spirit inilah yang, menurutnya, relevan untuk menjawab tantangan individualisme dan egoisme masa kini.

Diskusi semakin hidup saat sesi tanya jawab. Peserta aktif menyampaikan pandangan dan pertanyaan, mulai dari praktik solidaritas di lingkungan desa hingga peran generasi muda dalam menjaga harmoni sosial. Interaksi dua arah itu membuat forum tak sekadar menjadi ceramah satu arah, tetapi ruang refleksi bersama.

Melalui kegiatan ini, Atika berharap nilai kesetiakawanan sosial tidak berhenti di ruang hotel, melainkan tumbuh dalam tindakan nyata—di masjid, lingkungan tempat tinggal, hingga ruang-ruang publik. Ramadan, pada akhirnya, bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi menumbuhkan empati dan mempererat persaudaraan.

Penulis : Nanang

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar