Halal Bihalal PSHT Ponorogo, Semangat Persaudaraan Tak Lekang Usia

Suasana halal bihalal siswa rayon kemenag dan BPJS PSHT Ponorogo
PONOROGO, SINYALPONOROGO — Suasana hangat penuh kebersamaan mewarnai halal bihalal siswa rayon Kemenag dan BPJS Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Ponorogo yang digelar di Dam Cokro Resto, Selasa (7/4/2026). Kegiatan ini menjadi momentum mempererat tali persaudaraan lintas usia, sekaligus refleksi perjalanan para siswa dalam menempuh latihan.
Seluruh pelatih serta siswa dari rayon Kemenag dan BPJS tampak hadir. Tidak sekadar seremoni, acara ini diisi dengan sambutan yang menyentuh, terutama dari sosok yang akrab disapa Mbah Mul—salah satu siswa dewasa yang menjadi simbol semangat tanpa batas usia.
Di hadapan para peserta, Mbah Mul mengungkapkan motivasinya bergabung dalam latihan SH Terate. Bukan sekadar belajar bela diri, melainkan mencari “paseduluran”—persaudaraan yang tulus.
Di usianya yang menginjak 50 tahun, ia mengakui tantangan dalam mengikuti materi latihan, mulai dari senam, jurus, hingga teknik toyak yang kerap sulit dihafal. Namun keterbatasan itu tidak menyurutkan langkahnya.
“Sering lupa, tidak hafal lagi. Tapi intinya ingin sehat dan mencari saudara di PSHT. Makanya tetap semangat datang latihan,” ujarnya.
Pengakuan serupa juga disampaikan siswa lainnya. Mereka berharap kesabaran para pelatih dalam membimbing siswa dewasa yang memiliki keterbatasan fisik maupun daya ingat, namun tetap memiliki tekad kuat untuk menjadi bagian dari keluarga besar PSHT Ponorogo.
Sementara itu, Mas Bambang selaku salah satu ketua pelatihan menegaskan bahwa nilai utama dalam PSHT adalah persaudaraan tanpa sekat. Bahkan dalam penyebutan pun, tidak dikenal istilah “siswa” secara kaku.
“Di sini kita semua saudara. Panggilannya mas dan mbak. Apalagi yang dilatih sudah dewasa, bahkan ada yang lebih tua dari pelatih. Itu bentuk penghormatan,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa PSHT terus berbenah dalam metode pengajaran. Jika di masa lalu identik dengan pendekatan keras, kini lebih mengedepankan pembinaan yang humanis dan menyesuaikan kondisi peserta.
“Semua akan kembali ke masyarakat. Maka prosesnya juga harus baik,” tambahnya.
Kegiatan ditutup dengan halal bihalal dan saling bersalaman, menjadi simbol saling memaafkan sekaligus memperkuat ikatan batin antar anggota.
Di tengah dinamika zaman, semangat yang ditunjukkan para siswa dewasa ini menjadi pengingat bahwa belajar, berproses, dan membangun persaudaraan tidak pernah mengenal kata terlambat. PSHT Ponorogo pun membuktikan, bahwa kekuatan sejati bukan hanya pada fisik, tetapi pada hati yang saling terhubung.
Penulis : Nanang
