Kemarau Mulai Mengintip, BPBD Ponorogo Siaga: Ancaman Kekeringan Menguat hingga November 2026

Masun, Kepala Pelaksana
BPBD Kabupaten Ponorogo
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Tanda-tanda musim kemarau mulai terlihat di Kabupaten Ponorogo. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memastikan, peralihan musim kini sudah memasuki fase krusial yang perlu diwaspadai sejak dini.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, saat berbincang dengan awak media Sinyal Ponorogo, Kamis (23/4/2026), menjelaskan bahwa secara klimatologis, kemarau ditandai dengan rendahnya curah hujan dalam satu dasarian (10 hari).
“Jika dalam satu dasarian curah hujan maksimal hanya 50 milimeter, itu sudah masuk kategori kemarau. Pada periode 21–30 April ini, hujan hanya terjadi sekali. Ini sinyal awal,” jelasnya.
Masun memprediksi, musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung sekitar 5,5 bulan, dimulai akhir April hingga November. Meski masih ada hujan, intensitasnya diperkirakan rendah dan tidak signifikan terhadap ketersediaan air.
Ancaman Nyata: Kekeringan dan Krisis Air Bersih
Belajar dari pengalaman 2019, dampak kemarau panjang bisa sangat serius. Saat itu, sebanyak 45 desa di Ponorogo mengalami krisis air bersih akibat pengaruh El Nino yang memperpanjang musim kering.
“Ini yang harus diantisipasi. Kemarau agronomis terjadi saat tanaman sudah meranggas, itu tanda kondisi sudah parah,” tegasnya.
BPBD mulai bersiap dengan langkah konkret, termasuk distribusi air bersih ke wilayah rawan. Saat ini tersedia tiga unit mobil tangki berkapasitas 6.000 liter, ditambah dukungan dari PMI dan YMPP sehingga total menjadi lima unit armada.
Namun, jumlah tersebut dinilai masih belum ideal.
“Minimal lima unit itu baru cukup untuk meng-cover wilayah terdampak. Kalau ada tambahan dari swasta, tentu akan sangat membantu,” ujarnya.
14 Titik Rawan, Pola Alam Berubah
Berdasarkan peta kerawanan, terdapat sedikitnya 14 desa di Ponorogo yang secara alami memang rawan kekeringan. Perubahan pola vegetasi juga memperparah kondisi.
Masun mencontohkan wilayah Gelang Kulon, Kecamatan Sampung. Ia menegaskan, meranggasnya pohon jati menjadi indikator kemarau sudah memasuki fase akut.
“Kalau jati sudah meranggas, itu tanda kemarau sudah serius. Maka perlu perubahan vegetasi ke tanaman yang mampu menyimpan air,” katanya.
Ia menekankan, perubahan lingkungan ini tidak terjadi secara instan, melainkan akumulasi aktivitas masyarakat selama bertahun-tahun.
Air Tanah Tertekan, Warga Diminta Bijak
Selain faktor alam, penggunaan sumber air seperti sumur dalam (Sibel) juga turut memengaruhi ketersediaan air tanah. Jika tidak diatur, hal ini bisa mempercepat krisis air di tingkat warga.
BPBD mengimbau masyarakat untuk mulai berhemat air dan menyiapkan cadangan, seperti tandon air, terutama di wilayah langganan kekeringan.
“Kemarau identik dengan krisis air bersih. Maka, antisipasi harus dimulai dari sekarang,” tegas Masun.
Kolaborasi Jadi Kunci
Menariknya, BPBD juga menggandeng paguyuban sopir truk untuk membantu distribusi air. Selama ini mereka terkendala tidak memiliki tandon, sehingga BPBD berupaya memfasilitasi agar distribusi bisa lebih merata.
“Kalau truknya ada, tinggal kita siapkan tandonnya. Ini bisa jadi solusi percepatan distribusi air ke desa-desa terdampak,” pungkasnya.
Penulis : Nanang