Menu MBG Dipersoalkan, Antara Kritik Warga dan Klaim “Sudah Sesuai Gizi”

Menu MBG di SD Ma'arif Ponorogo pada Selasa, 14 April 2026 dinilai kurang layak dan penuhi gizi
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Ma’arif Ponorogo kembali menuai sorotan. Menu yang disajikan pada Selasa, 14 April 2026 dinilai jauh dari harapan peningkatan gizi anak.
Dalam daftar menu hari itu, siswa menerima nasi putih, ayam goreng dalam porsi kecil, oseng tempe dan kacang panjang, lalapan timun, serta empat butir buah kelengkeng. Secara kasat mata, komposisi tersebut tampak sederhana—bahkan memicu kritik dari masyarakat.
Didik Hariyanto, SH, MH, seorang advokat sekaligus warga Ponorogo, secara terbuka menyampaikan keprihatinannya. Ia menilai menu tersebut tidak mencerminkan standar gizi yang layak bagi anak-anak usia sekolah.
“Ya sangat prihatin dengan kondisi menu yang demikian. Tidak sesuai dengan yang disampaikan sebelumnya. Ini jauh dari tujuan peningkatan gizi anak,” ujarnya kepada Sinyal Ponorogo.
Didik bahkan mengusulkan agar program MBG dievaluasi total. Menurutnya, skema bantuan bisa dialihkan menjadi pendidikan gratis atau bantuan langsung kepada orang tua agar pemenuhan gizi anak lebih terjamin.
Namun di sisi lain, pihak penyelenggara memiliki pandangan berbeda. Shiella, Koordinator Wilayah SPPI MBG Kabupaten Ponorogo, menegaskan bahwa menu yang disajikan telah melalui perhitungan pengawas gizi.
Ia menyebut, berdasarkan data dari SPPG Nologaten, kandungan gizi dalam menu tersebut sudah memenuhi standar yang ditetapkan.
Perhitungan menunjukkan total energi mencapai sekitar 636,8 kkal, dengan kandungan protein 26,9 gram, lemak 21,7 gram, dan karbohidrat 73,5 gram. Secara angka, komposisi ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar anak dalam satu kali makan.
Perbedaan persepsi inilah yang kemudian menjadi sorotan. Di satu sisi, angka gizi dianggap mencukupi. Namun di sisi lain, tampilan dan porsi menu memunculkan kesan “minim” di mata masyarakat.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari angka-angka kandungan gizi, tetapi juga dari kepercayaan publik. Transparansi, kualitas bahan, hingga penyajian menjadi faktor penting yang tak bisa diabaikan.
Penulis : Nanang
