Garudo Djoyo Manggolo, Sayap Baru dari Sekolah Rakyat Ponorogo Menuju Panggung Nasional Reyog
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Malam di Kota Reyog selalu menyimpan cerita. Dari denting gamelan yang mengalun pelan hingga suara slompret yang menggema seperti doa, tanah ini tak pernah benar-benar tidur dari denyut budayanya. Di tengah napas panjang tradisi itulah, sebuah langkah baru lahir—tenang namun penuh keyakinan.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo (SRP) untuk pertama kalinya menapaki panggung Festival Nasional Reyog Ponorogo. Mereka hadir bukan sekadar sebagai peserta, tetapi sebagai pembawa harapan baru lewat satu nama yang sarat makna: Garudo Djoyo Manggolo.
Wisnu HP, pemrakarsa sekaligus pelatih Reyog di SRP, menyebut kehadiran kelompok ini sebagai simbol keberanian generasi muda untuk mencintai akar budayanya di tengah deras arus modernitas.
“Garudo Djoyo Manggolo adalah lambang semangat muda yang ingin terbang tinggi. Ini bukan sekadar tampil di panggung, tetapi perjalanan mengenali jati diri,” ujarnya kepada Sinyal Ponorogo Rabu, 13/5/2026.
Nama itu bukan sekadar rangkaian kata. Ia lahir dari semangat anak-anak yang berlatih dalam diam, berkeringat tanpa banyak sorot, namun menyimpan mimpi besar. Dalam setiap hentakan kaki dan gerakan Dadak Merak, tersimpan pesan sederhana: budaya bukan masa lalu, melainkan masa depan yang terus diperjuangkan.
Di tangan generasi muda ini, Reyog tidak hanya dipertontonkan—ia dihidupkan kembali.
Kepala SRP Ponorogo, Devit Tri Candrawati, menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan pesan Prabowo Subianto tentang pentingnya menjaga warisan budaya.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai budaya leluhurnya. Reyog bukan hanya seni, tetapi identitas. Kami ingin anak-anak ini tumbuh dengan kebanggaan itu,” jelasnya.
Ponorogo sendiri bukan sekadar tempat lahirnya Reyog. Ia adalah ruang hidup yang menjadikan budaya sebagai napas sehari-hari. Pengakuan dunia melalui UNESCO terhadap Reyog sebagai warisan budaya tak benda menjadi penguat bahwa apa yang tumbuh di tanah ini memiliki nilai universal. Namun bagi Garudo Djoyo Manggolo, panggung nasional bukanlah tujuan akhir.
Yang mereka kejar adalah proses.
Latihan demi latihan, kelelahan yang datang berulang, hingga kekompakan yang dibangun perlahan—semuanya menjadi bagian dari perjalanan sunyi yang justru membentuk karakter. Di balik kostum megah dan pertunjukan yang memukau, ada disiplin, ada ketulusan, dan ada mimpi yang terus dijaga.
Dengan semangat “Cerdas Bersama Tumbuh Setara,” SRP Ponorogo mencoba menghadirkan ruang di mana setiap anak punya kesempatan yang sama untuk bermimpi—tanpa batas, tanpa sekat.
Dan dari tanah yang dijuluki serpihan surga ini, sayap itu mulai mengepak.
Garudo Djoyo Manggolo bukan hanya nama kelompok Reyog. Ia adalah simbol bahwa generasi muda Ponorogo masih mencintai budayanya, masih bangga membawanya ke panggung yang lebih luas, bahkan ke mata dunia.
Sebab selama anak-anak itu masih menari dengan hati, Reyog akan selalu menemukan rumahnya. Bismillah, dari sini cerita itu dimulai.(Nang/Wisnu HP/Red).
