BREAKING NEWS

Grebeg Selo Desa Kupuk Tetap Menyala di Tengah Keterbatasan: Syukur, Tradisi, dan Harapan yang Tak Pernah Padam


PONOROGO, SINYALPONOROGO
— Di tengah keterbatasan anggaran, denyut tradisi tetap terasa kuat di Desa Kupuk, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo. Kegiatan bersih desa atau yang lebih dikenal sebagai Grebeg Selo tahun ini memang digelar secara lebih sederhana. Namun, maknanya justru semakin dalam: sebuah perayaan syukur, doa, dan komitmen menjaga warisan leluhur.

Jumat malam (8/5), lapangan Desa Kupuk menjadi saksi bagaimana tradisi tetap hidup melalui pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Dengan dalang Ki KRT Purbo Sasongko yang membawakan lakon Anoman Maneges, masyarakat larut dalam kisah heroik penuh filosofi yang sarat pesan moral dan spiritual.

Kepala Desa Kupuk, Agus Setiyono, S.Pd atau yang akrab disapa Agustino, menegaskan bahwa sedekah bumi bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, ia adalah wujud kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

“Selain sedekah untuk sesama manusia, kita juga perlu bersedekah untuk bumi yang telah memberikan kemakmuran,” ujarnya.

Dalam pandangan masyarakat Kupuk, tanah bukan sekadar tempat berpijak, tetapi sumber kehidupan yang harus dihormati. Sedekah bumi menjadi simbol rasa syukur atas keberkahan alam yang selama ini menghadirkan kesuburan, kemakmuran, dan kehidupan yang gemah ripah loh jinawi.

Tak hanya itu, tradisi ini juga dipercaya sebagai ikhtiar spiritual untuk menjauhkan desa dari marabahaya. Dalam ungkapan Jawa yang disampaikan Agustino, “tinebehno saking godo rencono,” tersirat harapan agar masyarakat senantiasa dilindungi dari bencana dan hal-hal buruk.

Grebeg Selo tahun ini mungkin tak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Minimnya anggaran membuat rangkaian acara harus dipangkas. Namun, esensi kebersamaan dan nilai budaya justru semakin terasa kental. Warga tetap hadir, berkumpul, dan merawat identitas mereka sebagai bagian dari masyarakat agraris yang menjunjung tinggi harmoni.

Agustino pun menyimpan optimisme untuk masa depan. Ia berjanji, pada penghujung masa jabatannya nanti, perayaan Grebeg Selo akan kembali digelar lebih meriah.

“Tahun depan, di akhir masa purna saya, akan kita adakan yang lebih meriah dibanding sebelumnya,” pungkasnya.

Lebih dari sekadar agenda tahunan, Grebeg Selo adalah cermin wajah Desa Kupuk: sederhana, bersahaja, namun sarat makna. Di sanalah doa-doa dipanjatkan, tradisi dijaga, dan harapan ditanamkan untuk masa depan yang lebih baik—menuju masyarakat yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Penulis : Nanang

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar