Grebeg Suro 2026 Meledak! Ponorogo Siap Tunjukkan Kelasnya sebagai Kota Kreatif Dunia
PONOROGO, SINYALPONOROGO — Gelaran Grebeg Suro 2026 dipastikan tak sekadar menjadi agenda budaya tahunan. Tahun ini, perayaan yang menandai pergantian Tahun Baru Islam tersebut menjelma menjadi panggung besar bagi Ponorogo untuk menegaskan posisinya sebagai bagian dari jejaring kota kreatif dunia.
Status sebagai anggota UNESCO Creative Cities Network (UCCN) yang diraih pada 2025 lalu menjadi energi baru. Apalagi, Ponorogo juga telah lebih dulu mengantongi pengakuan UNESCO melalui Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, menegaskan bahwa Grebeg Suro tahun ini harus menjadi momentum nyata untuk menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat.
“Grebeg Suro bukan hanya perayaan budaya, tapi momentum bagaimana ekonomi kreatif tumbuh dari tradisi yang kita miliki,” ujar Judha, Jumat (8/5/2026).
Sebanyak 28 rangkaian kegiatan telah disiapkan, mulai dari ritual keagamaan, festival budaya, hingga event kreatif modern. Seluruh agenda dirancang untuk menarik wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
Menurut Judha, pengakuan internasional yang diraih Ponorogo bukan sekadar prestise, melainkan peluang besar yang harus dimanfaatkan secara maksimal.
“Kita sudah diakui dunia. Sekarang tantangannya bagaimana pelaku usaha bisa menangkap peluang ini, menghadirkan produk kreatif yang bernilai jual tinggi,” tegasnya.
Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) menjadi salah satu magnet utama dalam rangkaian Grebeg Suro. Event ini bahkan masuk dalam 10 besar Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, memperkuat daya tarik Ponorogo sebagai destinasi wisata budaya unggulan.
Tak hanya di panggung pertunjukan, geliat ekonomi juga terasa hingga sektor akar rumput. Ekosistem reog terbukti menghidupi ribuan pelaku seni dan perajin, mulai dari pembuat dadak merak, topeng Bujangganong, hingga kostum dan gamelan.
“Reog itu bukan hanya seni pertunjukan, tapi ekosistem ekonomi yang besar. Dari situ lahir kriya, kuliner, hingga fashion yang semuanya bisa berkembang,” jelas Judha.
Ia optimistis lonjakan kunjungan wisatawan selama Grebeg Suro akan berdampak langsung pada peningkatan omzet pelaku UMKM, khususnya di subsektor kuliner, fesyen, dan kerajinan.
Dengan dukungan jaringan global UCCN, promosi Grebeg Suro kini menjangkau pasar internasional. Ponorogo pun tak hanya menjadi tuan rumah perayaan, tetapi juga pemain dalam peta ekonomi kreatif dunia.
“Ini saatnya Ponorogo naik kelas. Budaya kita sudah diakui, sekarang ekonomi kreatifnya harus ikut melesat,” pungkasnya.
Grebeg Suro 2026 menjadi bukti bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga kekuatan masa depan—yang mampu menggerakkan ekonomi, menghidupkan kreativitas, dan membawa Ponorogo ke panggung dunia.(Nang/Kominfo).
