BREAKING NEWS

Ambulans Jenazah di Depan Masjid Sawoo: Hanya Ditutup, Bukan Dipindah — Solusi Setengah Hati?

Ambulan di depan Masjid Darul Hikmah Dukuh Ngemplak Desa Sawoo Ponorogo 

PONOROGO, SINYALPONOROGO
– Penanganan keluhan warga terkait keberadaan ambulans pengangkut jenazah di pelataran Masjid Darul Hikmah, Dukuh Ngemplak, Desa/Kecamatan Sawoo, menuai sorotan. Alih-alih dipindahkan seperti harapan warga, kendaraan tersebut kini hanya ditutup terpal—sebuah langkah yang dinilai sekadar “menyamarkan”, bukan menyelesaikan persoalan.

Sejak awal, warga telah menyampaikan keresahan. Bukan tanpa alasan. Posisi ambulans yang berada tepat di depan masjid, ruang publik yang identik dengan ketenangan ibadah, justru menghadirkan rasa waswas bagi sebagian masyarakat.

“Anak-anak sampai takut ke masjid. Kalau subuh atau malam, rasanya beda,” ujar warga.

Tak berhenti di situ, dampak lain juga mulai terasa. Warga menyebut, sejumlah jamaah luar yang melintas memilih tidak jadi mampir setelah mengetahui keberadaan ambulans jenazah di lokasi tersebut.

“Banyak yang niat salat, tapi urung. Kita lihat sendiri,” ungkap warga lain.

Saat dikonfirmasi awal, Camat Sawoo Dina Andriani, S.STP, M.Si menyatakan akan melakukan koordinasi dengan pihak terkait.

“Terima kasih informasinya. Nanti akan kita koordinasikan,” ujarnya singkat.

Namun, setelah itu, komunikasi terputus. Upaya konfirmasi lanjutan yang dilakukan media berulang kali tidak mendapat respons. Tidak ada penjelasan, tidak ada perkembangan terbuka. Publik pun dibiarkan bertanya: sejauh mana koordinasi itu berjalan?

Di lapangan, fakta berbicara lain. Berdasarkan penelusuran dan keterangan warga, tidak ada relokasi. Ambulans tetap berada di lokasi semula—hanya saja kini ditutup.

Langkah ini memunculkan kritik baru. Bagi warga, menutup bukan solusi.

“Kalau cuma ditutup, ya tetap saja ada di situ. Dari awal yang diminta itu dipindah,” tegas warga.

Situasi ini memunculkan kesan adanya penanganan setengah hati. Di satu sisi, ada respons formal dari pemerintah. Namun di sisi lain, implementasinya tidak menyentuh inti persoalan.

Lebih jauh, fenomena ini membuka pertanyaan lebih luas tentang sensitivitas penataan ruang publik. Masjid bukan sekadar bangunan fisik, tetapi ruang spiritual yang seharusnya memberikan rasa nyaman bagi semua kalangan, termasuk anak-anak dan pendatang.

Memang, tidak semua orang merasakan hal yang sama. Namun dalam tata kelola ruang sosial, persepsi minoritas sekalipun tetap layak dipertimbangkan.

Kini, warga masih menunggu—bukan sekadar jawaban, tetapi tindakan nyata. Apakah ambulans akan benar-benar dipindahkan? Ataukah persoalan ini akan terus “ditutup”, seperti kendaraan yang menjadi sumber keresahan itu sendiri?(Nang/Red).

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar