Tak Ada Cerita EO Grebeg Suro Rugi, Ini Ulasan Galih Rakasiwi
![]() |
| Galih Rakasiwi EO Grebeg Suro 2026 |
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Grebeg Suro bukan sekadar agenda tahunan. Ia telah menjadi denyut budaya Kabupaten Ponorogo selama lebih dari tiga dekade. Memasuki usia ke-31 tahun penyelenggaraan, event ini terus berkembang, baik dari sisi konsep maupun pengelolaan. Namun di balik gemerlap panggung dan riuh penonton, muncul satu narasi klasik yang terus berulang: Event Organizer (EO) selalu disebut merugi.
Galih Rakasiwi, EO Grebeg Suro 2026, justru mematahkan anggapan tersebut.
“Tidak ada ceritanya EO itu rugi. Seribu rupiah pun kalau masih ada selisih, itu tetap untung,” ujar Galih saat berbincang santai dengan Sinyal Ponorogo, Senin (6/7/2026).
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Menurutnya, jika benar merugi, mustahil setiap tahun banyak EO tetap mendaftar dan berebut menjadi pengelola event budaya terbesar di Ponorogo tersebut.
Panggung 10 Hari, Skala Nasional
Grebeg Suro 2026 menghadirkan rangkaian acara selama hampir 10 hari penuh. Mulai dari Festival Reyog Remaja hingga Festival Nasional Reyog Ponorogo, seluruh kegiatan dipusatkan di panggung utama Alun-Alun Ponorogo.
Dengan skala sebesar itu, kebutuhan anggaran tentu tidak kecil. Galih menyebut total biaya penyelenggaraan mencapai kisaran Rp4 miliar lebih. Sementara itu, pendapatan dari tiket hanya berkisar Rp600–700 juta.
“Penopang utamanya tetap dari sponsor. Jadi memang harus pintar membangun relasi dan kepercayaan,” jelasnya.
Belajar Manajemen dan Kedewasaan
Bagi Galih, mengelola Grebeg Suro bukan semata soal bisnis. Lebih dari itu, ini adalah proses pembelajaran besar, terutama dalam hal komunikasi dan manajemen.
Terjun langsung di lapangan mempertemukannya dengan berbagai pihak, mulai dari pejabat, pelaku seni, hingga masyarakat umum. Situasi tersebut menuntut kemampuan komunikasi yang baik sekaligus ketahanan mental.
“Ini soal pendewasaan diri. Kita belajar menghadapi banyak karakter, banyak kepentingan, dan harus tetap profesional,” katanya.
Administrasi Jadi Catatan Penting
Meski mengaku tidak merugi, Galih tidak menutup mata terhadap sejumlah tantangan. Salah satu yang paling krusial adalah proses administrasi dan pencairan anggaran dari pemerintah daerah.
Sebagai EO yang bekerja sama dengan pemerintah, kebutuhan surat-menyurat hingga perizinan menjadi hal yang tak terpisahkan. Namun, menurutnya, proses tersebut masih sering berjalan lambat.
“Kami hanya berharap ke depan administrasi bisa lebih cepat, tidak berbelit. Karena ini menyangkut kesiapan teknis di lapangan,” tegasnya.
Tiket, Undangan, dan Kenyamanan Penonton
Persoalan lain muncul pada pengelolaan penonton, khususnya di panggung utama. Meski EO telah menyediakan sekitar 50 hingga 100 kursi cadangan untuk tamu penting, dinamika di lapangan tetap sulit dihindari.
Kedatangan tamu undangan secara rombongan, terutama yang datang terlambat, kerap memicu ketidakseimbangan kapasitas tempat duduk. Dampaknya, penonton yang telah membeli tiket bisa merasa dirugikan.
“Ini yang harus diperbaiki ke depan, terutama penataan tamu VVIP. Jangan sampai yang sudah beli tiket tidak mendapat tempat duduk,” jelas Galih.
Ia menegaskan bahwa kenyamanan penonton harus tetap menjadi prioritas utama, karena mereka adalah bagian penting dari keberlangsungan event.
Soal Tamu dan Realita Lapangan
Dalam praktiknya, EO juga harus menghadapi berbagai situasi yang tidak selalu ideal, termasuk kehadiran tamu undangan dalam jumlah besar.
Namun Galih memilih untuk menyikapinya dengan santai.
“Kita maklumi saja. Itu bagian dari dinamika acara. Kita enjoy,” ujarnya.
Siap Lebih Spektakuler
Meski penuh tantangan, Galih mengaku siap jika kembali dipercaya mengelola Grebeg Suro di tahun mendatang. Bahkan ia memastikan konsep yang ditawarkan akan lebih matang dan spektakuler.
Namun dengan satu catatan penting: sistem manajemen harus lebih terintegrasi, termasuk kendali penuh terhadap tim dan volunteer.
“Koordinasi harus satu pintu. Perhitungan biaya juga harus lebih detail sejak awal,” katanya.
Lebih dari Sekadar Event
Pada akhirnya, Grebeg Suro bukan hanya soal angka keuntungan atau kerugian. Ia adalah panggung budaya, ruang kolaborasi, sekaligus ajang pembelajaran bagi semua pihak yang terlibat.
Dan bagi Galih Rakasiwi, pengalaman mengelola event ini menjadi bukti bahwa profesionalisme, kejujuran, dan manajemen yang baik dapat mengubah narasi lama menjadi perspektif baru.
Bahwa di balik kerja keras dan kompleksitas penyelenggaraan, selalu ada nilai yang lebih besar dari sekadar hitungan finansial.
Penulis : Nanang
