BREAKING NEWS

Volunteer Harus di Bawah Kendali EO, Catatan Penting dari Grebeg Suro 2026

Galih Rakasiwi 
EO Grebeg Suro 2026 

PONOROGO, SINYALPONOROGO
– Evaluasi pelaksanaan Grebeg Suro 2026 mulai mengerucut pada satu hal krusial: kendali terhadap volunteer. Bagi Galih Rakasiwi, Event Organizer (EO) Grebeg Suro 2026, keberadaan volunteer bukan sekadar pelengkap, melainkan elemen kunci yang menentukan sukses tidaknya sebuah acara.

“Kalau saya masih dipercaya menjadi EO Grebeg Suro 2027, volunteer harus berada di bawah komando EO,” tegas Galih saat berbincang dengan Sinyal Ponorogo, Senin (6/7/2026).

Pernyataan itu lahir dari pengalaman langsung di lapangan. Dalam penyelenggaraan tahun ini, menurut Galih, volunteer tidak sepenuhnya berada di bawah kendali EO, melainkan berada dalam koordinasi pihak lain. Situasi tersebut, kata dia, justru membuat peran EO menjadi tidak optimal.

“Yang terjadi kemarin, volunteer bukan di bawah kami. Akhirnya EO tidak bisa mengatur secara mutlak,” ungkapnya.

Peran Vital yang Tak Bisa Diabaikan

Dalam sebuah event berskala besar seperti Grebeg Suro, volunteer memiliki peran strategis. Mereka menjadi garda depan dalam operasional lapangan: mengatur penonton, membantu teknis acara, hingga memastikan alur kegiatan berjalan sesuai rencana.

Namun ketika koordinasi tidak satu pintu, potensi miskomunikasi menjadi sangat besar. Bagi Galih, kondisi ini bukan hanya mengganggu teknis, tetapi juga berdampak pada tanggung jawab keseluruhan.

“EO itu yang pertama dimintai pertanggungjawaban. Jadi semua elemen, termasuk volunteer, harus satu komando,” jelasnya.

Antara Tanggung Jawab dan Kewenangan

Menurut Galih, ada ketidakseimbangan yang terjadi antara tanggung jawab dan kewenangan. Di satu sisi, EO dituntut memastikan acara berjalan sukses. Namun di sisi lain, tidak semua elemen berada dalam kendali penuh EO.

Kondisi ini dinilai berisiko, terutama dalam pengambilan keputusan cepat di lapangan yang membutuhkan koordinasi solid.

“Kalau tidak di bawah EO, akan merepotkan. Kita yang bertanggung jawab, tapi tidak punya kendali penuh,” katanya.

Sikap Tegas: Lebih Baik Mundur

Galih bahkan menyampaikan sikap tegas. Ia menyebut, jika pola koordinasi seperti tahun ini kembali terulang, dirinya memilih untuk tidak mengambil peran sebagai EO.

“Kalau volunteer tidak di bawah EO, meskipun saya dipercaya lagi, lebih baik tidak sekalian,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa profesionalisme dalam pengelolaan event harus dibangun dengan sistem yang jelas dan terintegrasi.

Evaluasi Menuju Grebeg Suro 2027

Apa yang disampaikan Galih menjadi catatan penting bagi seluruh pihak, terutama dalam menyiapkan Grebeg Suro 2027. Event budaya yang telah menjadi ikon Ponorogo ini menuntut pengelolaan yang semakin matang seiring dengan besarnya skala dan ekspektasi publik.

Koordinasi lintas pihak, kejelasan struktur komando, serta pembagian peran yang tegas menjadi kunci agar tidak terjadi tumpang tindih di lapangan.

Lebih dari itu, keberhasilan sebuah event tidak hanya ditentukan oleh konsep dan kemegahan panggung, tetapi juga oleh kekuatan manajemen di balik layar.

Dan dari Grebeg Suro 2026, satu pelajaran penting mengemuka: tanpa kendali yang jelas terhadap seluruh elemen, termasuk volunteer, sebuah event besar akan berjalan dengan risiko yang lebih tinggi.

Evaluasi ini menjadi momentum untuk berbenah—agar Grebeg Suro ke depan tidak hanya meriah, tetapi juga semakin profesional.

Penulis: Nanang 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar