Tak Sekadar Program, Ini Soal Amanah: SPPG Patihan Kidul Jadi Role Model MBG di Ponorogo

SPPG Patihan Kidul Siman bersama penerima manfaat di resto di kawasan Juanda
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto tak sekadar dijalankan sebagai rutinitas oleh Mitra SPPG Patihan Kidul, Kecamatan Siman. Di bawah naungan Yayasan Berkah Srikandi Abadi, program ini dijaga sebagai amanah—bahkan dijadikan standar moral dalam melayani generasi masa depan.
Sugeng Hariyono, yang akrab disapa Sugeng Srikandi, menegaskan bahwa kualitas adalah harga mati. Bagi dia, tidak ada ruang kompromi ketika menyangkut hak anak-anak penerima manfaat.
“Kalau anggarannya Rp8-10 ribu, ya harus sampai ke anak-anak. Bahkan kalau ada lebih, ya harus diwujudkan dalam menu yang lebih spesial. Jangan sampai masuk kantong pribadi,” tegasnya saat ditemui dalam acara perpisahan dengan penerima manfaat di salah satu resto kawasan Jalan Juanda, Kamis (23/4/2026).
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Sugeng menyebut, dirinya berkali-kali menekankan kepada seluruh tim SPPG agar tidak main-main dalam menjalankan program strategis nasional ini.
“Kalau hanya untuk coba-coba atau main-main, lebih baik tidak usah. Kasihan anak-anak sebagai penerima manfaat,” imbuhnya.
Kedekatan yang Tak Sekadar Formalitas
Selama ini, hubungan antara SPPG Patihan Kidul dan penerima manfaat bukan sekadar penyedia dan penerima. Lebih dari itu, telah terjalin relasi layaknya keluarga.
![]() |
| Komunikasi baik, antara mitra, SPPG hingga penerima manfaat laksana keluarga saja.. |
Sebanyak 15 sekolah yang sebelumnya dilayani SPPG Patihan Kidul menjadi saksi bagaimana komunikasi dua arah berjalan intens. Menu makanan tidak disusun sepihak, melainkan melalui masukan langsung dari siswa dan sekolah.
“Kita sering sharing. Anak-anak suka yang mana, yang kurang diminati apa. Itu jadi bahan evaluasi kami,” ungkap Sugeng.
Namun, kebersamaan itu kini harus terhenti. Bukan karena persoalan kualitas, melainkan kebijakan pemerataan. Hadirnya SPPG baru di Desa Pijeran, Siman, membuat sebagian penerima manfaat harus dialihkan.
Berpisah Karena Kebijakan, Bukan Kekecewaan
Perpindahan ini diakui berat, baik bagi pihak SPPG maupun sekolah penerima manfaat. Kepala PAUD Islam Terpadu Ngabar, Sutiyem, bahkan tak menutupi rasa kehilangan.
“Anak-anak sudah sangat cocok. Menunya beragam dan rasanya enak. Bahkan sisa makanan dibawa pulang, orang tua ikut merasakan dan mengakui kualitasnya,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Nanik dari TK Pijeran. Ia mengaku telah merasa nyaman dengan layanan SPPG Patihan Kidul, namun harus mengikuti aturan karena adanya SPPG baru.
“Harapannya minimal sama, kalau bisa lebih baik. Kalau tidak, kami tentu akan evaluasi,” katanya.
Tetap Mengabdi, Meski Tak Lagi Melayani
Meski tak lagi melayani sebagian sekolah, Sugeng memastikan komitmen sosial tetap berjalan. Salah satunya melalui program beasiswa bagi anak yatim dan keluarga kurang mampu.
“Walaupun tidak lagi kami layani, beasiswa tetap kami berikan. Kami ingin anak-anak ini tetap punya jalan menuju masa depan yang lebih baik,” tegasnya.
Langkah ini menjadi bukti bahwa peran SPPG tak berhenti pada distribusi makanan, tetapi juga menyentuh aspek pendidikan dan kesejahteraan jangka panjang.
Dorong SPPG Lain Tak Main-Main
Sugeng juga menyampaikan pesan keras kepada seluruh penyelenggara SPPG lainnya di Ponorogo. Ia mengingatkan agar tidak ada praktik pengurangan kualitas atau penyimpangan anggaran.
“Kalau sampai hak anak-anak dikurangi, itu tidak bisa ditoleransi. Kalau perlu, tolak atau laporkan,” ujarnya tegas.
Ia bahkan menargetkan SPPG Patihan Kidul menjadi role model bagi SPPG lain—bukan hanya dalam kualitas menu, tetapi juga integritas.
Harmonisasi Jadi Kunci
Sementara itu, Kepala SPPG Patihan Kidul, Winda, menjelaskan bahwa pengurangan jumlah penerima manfaat dari sekitar 3.000 menjadi 2.500 merupakan dampak kebijakan dari Badan Gizi Nasional (BGN).
“Setiap SPPG harus punya penerima manfaat. Jadi dilakukan rolling antar wilayah,” jelasnya.
Namun demikian, ia memastikan bahwa sinergi antara SPPG, mitra, dan yayasan tetap solid.
“Hubungan kami sangat harmonis. Semua satu visi: program MBG ini tidak boleh dinodai oleh kepentingan pribadi,” pungkasnya.
Penulis : Nanang
