Viral Temuan Ulat di Menu MBG Ponorogo, SPPG Mlarak Tegaskan Evaluasi Total dan Perketat Pengawasan

Forkopimca Mlarak ketika sidak di SPPG di wilayah Mlarak Ponorogo pastikan semua berjalan baik
PONOROGO, SINYALPONOROGO — Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya video temuan belatung pada menu beef teriyaki dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Tugu, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Senin (11/5/2026). Insiden tersebut sontak memicu perhatian publik, mengingat program MBG merupakan salah satu prioritas nasional dalam peningkatan gizi masyarakat.
Peristiwa itu terjadi pada salah satu penerima manfaat di Posyandu Desa Tugu. Berdasarkan berita acara kejadian, belatung ditemukan setelah makanan dipindahkan ke wadah pribadi yang dibawa dari rumah.
Laporan kemudian disampaikan kepada kader Posyandu dan pemerintah desa, sebelum diteruskan ke pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ponorogo Mlarak Tugu. Tak lama berselang, dilakukan mediasi antara penerima manfaat dan pihak SPPG.
Hasilnya, kedua pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan melalui musyawarah mufakat yang turut disaksikan pemerintah desa.
Kepala SPPG Ponorogo Mlarak Tugu, Risqi Wahyudatama, SH, mengaku terkejut atas kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa seluruh proses pengolahan makanan telah mengikuti standar operasional yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Kami kaget dengan kejadian ini. Selama ini proses dari bahan baku hingga menjadi menu sudah melalui prosedur standar. Tidak ada unsur kesengajaan, dan kami terus melakukan evaluasi menyeluruh,” ujar Risqi kepada Sinyal Ponorogo Selasa, 12/5/2026.
Dari sekitar 1.100 penerima manfaat, lanjutnya, hanya satu laporan yang masuk terkait temuan tersebut. Pihaknya juga telah melakukan pengecekan ke sejumlah penerima manfaat lain dan tidak menemukan kasus serupa.
“Kalau memang ada kesalahan dalam proses produksi, seharusnya tidak hanya satu yang komplain. Namun demikian, kami tidak ingin berspekulasi terlalu jauh. Semua kemungkinan tetap kami telusuri,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya masih menyimpan sampel makanan di freezer untuk keperluan uji laboratorium guna memastikan penyebab kejadian tersebut.
“Kami masih melakukan penelusuran, termasuk kemungkinan setelah makanan berpindah wadah. Sampel masih ada dan bisa diuji jika diperlukan,” jelasnya.
Sejak beroperasi pada 3 Maret 2026, SPPG Mlarak berada di bawah naungan Yayasan Berkah Rahayu Maju, Wonogiri, Jawa Tengah, dan melayani sekitar 1.100 penerima manfaat. Fasilitas yang dimiliki disebut telah memenuhi standar, mulai dari sistem pengolahan limbah (IPAL), penggunaan air bersih berstandar SNI, hingga penerapan quality control pada bahan dan produk.
Meski demikian, Risqi menegaskan pihaknya tidak akan lengah dan menjadikan insiden ini sebagai bahan evaluasi serius.
“Ini menjadi evaluasi penting bagi kami. Ke depan kami akan lebih ketat dalam pengawasan bahan baku dan hasil produksi agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.
Ia juga memastikan bahwa pihak SPPG tidak ingin menyalahkan pihak mana pun atas kejadian tersebut, mengingat persoalan telah diselesaikan secara damai di tingkat lokal.
“Yang terpenting saat ini adalah bagaimana kami memperbaiki sistem dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program ini,” pungkasnya.
Program MBG sendiri diharapkan menjadi langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya ibu dan anak. Insiden ini menjadi pengingat bahwa selain cakupan luas, konsistensi kualitas dan pengawasan ketat menjadi kunci utama keberhasilan program tersebut.(Nang/Redaksi)