ICMI Orda Ponorogo Segera Terbentuk, Lisdyarita Dorong Peran Cendekiawan Jadi Motor Perubahan Daerah
![]() |
| Bunda lisdyarita Plt Bupati Ponorogo bersama tem formatur ICMI Orda Ponorogo |
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Gagasan pembentukan Organisasi Daerah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Kabupaten Ponorogo kian menguat. Dukungan pemerintah daerah pun mengalir, menandai sinyal positif lahirnya wadah strategis bagi kalangan intelektual Muslim untuk turut mengakselerasi pembangunan.
Dukungan tersebut mengemuka dalam audiensi antara Tim Formatur ICMI Orda Ponorogo dengan Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, di Pringgitan Rumah Dinas Bupati, Rabu (8/7/2026) sore. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat selama lebih dari satu jam itu, tampak hadir Sekretaris Daerah Agus Sugiarto serta Asisten Pemerintahan Setdakab Bambang Suhendro.
Ketua Formatur ICMI Orda Ponorogo, Muhamad Fajar Pramono, memimpin langsung rombongan yang terdiri dari sejumlah akademisi dan profesional lintas bidang. Mereka membawa satu visi: menghadirkan ICMI sebagai rumah besar cendekiawan Muslim yang tidak hanya berhenti pada diskursus, tetapi mampu melahirkan solusi konkret bagi daerah.
Lisdyarita menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai, kehadiran ICMI di Ponorogo bukan sekadar organisasi baru, melainkan potensi kekuatan intelektual yang dapat menjadi mitra strategis pemerintah.
“ICMI ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi. Pemerintah tentu tidak bisa bekerja sendiri. Perlu dukungan pemikiran, inovasi, dan gagasan segar dari para cendekiawan,” ujar Lisdyarita.
Menurutnya, tantangan pembangunan ke depan semakin kompleks—mulai dari penguatan ekonomi daerah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga daya saing global. Di titik inilah, peran cendekiawan menjadi krusial sebagai penggerak perubahan berbasis ilmu pengetahuan.
Sementara itu, Fajar Pramono menegaskan bahwa ICMI sejak awal berdiri telah memposisikan diri sebagai lokomotif pemikiran umat. Ia menyinggung figur B.J. Habibie sebagai simbol keberhasilan integrasi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai keislaman dalam membangun bangsa.
“ICMI tidak boleh hanya menjadi forum diskusi. Harus mampu mentransformasikan ilmu menjadi solusi nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya menghadirkan figur cendekiawan transformatif di era kekinian—sosok yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga adaptif, inovatif, dan inklusif. Dalam konteks ini, ia menyinggung kiprah Arif Satria sebagai representasi kepemimpinan intelektual modern yang berorientasi pada riset dan inovasi.
Bagi Ponorogo, kehadiran ICMI diharapkan menjadi katalisator kolaborasi lintas sektor. Mulai dari akademisi, birokrat, pelaku usaha, hingga tokoh masyarakat, semua dapat bersinergi dalam satu platform yang berorientasi pada kemajuan daerah.
Audiensi tersebut juga menjadi momentum awal membangun komunikasi yang lebih intens antara pemerintah daerah dan kalangan cendekiawan. Tim Formatur pun berharap dukungan penuh dari Pemkab Ponorogo agar proses pembentukan organisasi berjalan sesuai mekanisme dan segera dapat dikukuhkan secara resmi.
Di tengah dinamika pembangunan daerah yang terus bergerak, kehadiran ICMI Orda Ponorogo diyakini dapat memberi warna baru—menghadirkan pendekatan berbasis ilmu, nilai, dan etika dalam merumuskan arah kebijakan publik.
Pertemuan ditutup dengan komitmen bersama untuk membangun kemitraan produktif. Sebuah langkah awal yang diharapkan tidak berhenti pada seremoni, melainkan berlanjut pada kerja nyata demi Ponorogo yang lebih maju, berdaya saing, dan berkeadaban.(Nang/Humas/Red).

